PREVENTIVE DENTISTRY (FLUOR)



 PREVENTIF DENTISTRY FLUOR


KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada dosen pengampu, Ibu Nova Herawati, S.Kp.G dan drg. Lisnayetti, M.Kes yang telah membimbing kami, sehingga bisa menyeleseikan makalah ini sesuai waktu yang telah ditentukan. Terima kasih juga kepada teman-teman yang turut andil dalam terselesainya makalah ini.
Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah prevdent dan memperdalam pengetahuan kami tentang FLUORIDE. Mudah-mudahan dengan makalah ini kami dapat menerapkan ilmu yang telah didapat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan segala keterbatasan yang ada, kami telah berusaha dengan segala daya dan upaya guna menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwasanya makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Atas kritik dan sarannya kami ucapkan terimakasih.


Bukittinggi,  6 September 2018


                                                                                                            Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
             1.1 Latar belakang................................................................................................ 1
             1.2 Rumusan masalah........................................................................................... 1
             1.3 Tujuan............................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
              2.1
Pengertian Fluor...........................................................................................  3
              2.2 Struktur Kristal Email................................................................................... 4
              2.3 Reaksi Flour Dengan Email.......................................................................... 4
2.4 Macam-Macam Larutan Flour Yang Dapat Digunakan............................... 5
2.5 Kegunaan Fluor............................................................................................. 7
2.6 Mekanisme Kariostatika Flour...................................................................... 8
2.7 Aplikasi Topical............................................................................................ 10
BAB III PENUTUP
               3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 12
               3.2 Saran............................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 13

                                                                        BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
                   Fluorida yang sebelumnya disebut fluorine, merupakan elemen kimia yang bersifat sangat elektronegatif. Oleh karena itu tidak pernah ditemukan dalam bentuk eleman bebas. Tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan adalah sumber fluorida.
                    Ion-ion fluor 96% diabsorbsi melalui saluran pencernaan yakni pada lambung dan usus kecil. Setelah masuk pencernaan, fluor diabsorbsi selama 30-90 menit, terutama melalui mukosa usus dan lambung. Absorbsi fluor berlangsung lebih cepat bila lambung kosong. Konsentrasi tinggi ion fluor yang keluar dari mukosa pada saluran sistem pencernaan akan melewati konsentrasi yang lebih rendah secara fisikokimiawi pada daerah sekitar mukosa intestinal dan sistem sirkulasi.
                    Distribusi fluor berlangsung cepat mengikuti dosis fluor dalam rongga mulut. Konsentrasi fluor dalam darah akan mencapai puncaknya sekitar satu jam setelah konsumsi fluor dan selanjutnya akan menurun. Empat jam kemudian konsentrasi fluor dalam plasma akan menjadi normal kembali, yakni sekitar 0,10 sampai 0,15 ppm. Sekitar 75% fluor akan disimpan dalam plasma, dan keseimbangannya terdapat dalam sel darah merah. 90% fluor dalam plasma terikat dan bersifat non-exchangeable.
                    90-95% fluor dalam tubuh akan diekskresikan melalui urin. Selain itu sekitar 5-10% dapat diekskresikan juga melalui feses, keringat, kelenjar air susu, kelenjar saliva, dan cairan gingiva. Tetapi dalam jumlah yang sangat kecil.

2.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Flour?
2.      Bagaimana Struktur Kristal Email?
3.      Bagaimana Reaksi Flour Dengan Email?
4.      Apa Saja Macam-Macam Obat-Obatan Atau Larutan Flour Yang Dapat Digunakan?
5.      Apa Saja Kegunaan Fluor?
6.      Bagaimana Mekanisme Kariostatika Flour?
7.      Bagaimana Topical Aplikasi Fluor?

1.3 Tujuan
1. untuk mengetahui pengertian flour
2. untuk mengetahui struktur kristal email
3. untuk mengetahui reaksi krital email
4. untuk mengetahui macam-macam ocat-obatan atau larutan fluoryang dapat digunakan
5. untuk mengetahui kegunaan fluor      
6. untuk mngetahui mekanisme kariostatika fluor
7. untuk mngetahui topical aplikasi fluor




















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian fluor
                  Pada tahun 1901 seorang dokter gigi Amerika, Dr. F. McKay, yang baru saja pindah dari Pennsylvania ke Colorado Springs, menemukan apa yang dinamakan email yang berbintik (mottled enamel) pada gigi kebanyakan pasiennya. la menggambarkannya sebagai email yang ditandai dengan bintik kecil putih, atau bintik (daerah) kuning atau coklat, yang tersebar tidak beraturan di seluruh permukaan gigi. Atau seluruh gigi terlihat bagai kertas yang berwarna putih mati,seperti warna piring porselen. Baru pada tahun tiga puluhan diketahui penyebab timbulnya bintik tersebut adalah kadar F air minum yang berlebihan (>2,0 bagian/106F/liter). Keadaan ini juga dihubungkan dengan rendahnya prevalensi karies di daerah itu. Penelitian mengenai hal tersebut diatas dilakukan di Amerika Serikat 2 dan 3 Inggris. Istilah ‘fluorosis gigi’ lalu dipakai dan penelitian pun segera diadakan untuk mengetahui manfaat fluor terhadap gigi.
                  Pada tahun 1942 Dean dan kawan-kawan menerbitkan hasil penelitian apidemiologi klasik yang dibuat oleh US Public Health Service. Penelitian dilakukan terhadap anak-anak berumur antara 12-14 tahun, tinggal di 20 kota. dan dicari hubungan antara karies yang terjadi dengan kandungan F pada air minum yang digunakan. Hasilnya menunjukan bahwa jika kadar F dalam air minum kira-kira 1 bagian/106 F (1 bagian per sejuta =1 bps) maka gigi penduduk yang berumur panjang di daerah tersebut mempunyai prevalensi yang rendah tapi tanda-tanda fluorosis. Contohnya, anak umur 12-14 tahun kariesnya 50% lebih sedikit dibandingkan dengan anak yang air minumnya tidak mengandung fluor. Penemuan ini menyebabkan dilakukannya penambahan F pada air minum yang tidak cukup mengandung mengandung F di beberapa daerah tempat penelitian klinis di seluruh dunia. 5 kandungan optimum F dalam air di daerah beriklim sedang adalah 1 bps sementara pada daerah beriklim tropis yang konsumsi airnya lebih banyak, kadar optimumnya dikurangi sampai menjadi 0.7 bps. Kesimpulan hasil penelitian itu adalah bahwa menurunkan karies dengan menambah flour dengan kadar optimal merupakan sesuatu mungkin dilakukan. Fluor adalah mineral alamiah yang terdapat di semua sumber air termasuk laut. Fluor tidak pernah ditemukan dalam bentuk bebas dialam. Fluor bergabung dengan unsur lain membentuk senyawa fluorida.
                        Fluor merupakan salah satu unsur yang melimpah pada kerak bumi. Unsur ini ditemukan dalam bentuk ion Fluorida (F). Dimana fluorida bersifat organik dan anorganik yang mengandung elemen fluor. Seperti halnya halogen, fluor adalah ion monovalen (-1 charge). Zat fluor dapat bersenyawa dengan elemen atau radikal lainnya seperti hydrofluoric acid (HF), sodium fluorie (NaF), calcium fluoride (CaF2) dan uranium hexafluoride (UF6).
                  Fluor telah digunakan secara luas untuk mencegah karies. Penggunaan fluor dapat dilakukan dengan fluoridasi air minum, pasta gigi dan obat kumur yang mengandung fluor, pemberian tablet fluor dan topikal varnish. Tujuan penggunaan fluor dalam bidang kedokteran gigi adalah untuk melindungi gigi dari karies.

2.2 Struktur Kristal email
                  Mineral email terdiri atas Kristal-kristal dan mempunyai struktur seperti kisi-kisi khas hidroksi apatit. Unsur terkecilnya dengan formula Ca10(PO4)6(OH)2, Tetapi email bukan merupakan hidroksiapatit murni karena mengandung fase non-apatit (kalsium fosfat dan kalsium karbonat amorf), dan ion atau molekul tambahan diserap ke dalam permukaan kristalnya yang luas. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa cara:
·            Kisi-kisi Kristal mampu mengganti spesies ion lain yang sesuai muatan dan             ukurannya. jadi, kisi-kisi kalsium dapat diganti oleh ion radium, strontium, timah dan hydrogen, fosfat dapat digantikan oleh karbonat, sedangkan gugus hidroksil             oleh ion flour.
·            Natrium magnesium,dan karbonat dapat diserap oleh permukaan Kristal.
·            Suatu kerusakan bisa terdapat pada kisi-kisi internal.
·            Sebagian kisi-kisi dapat saja hilang tanpa harus merusak seluruh Kristal

     2.3 Reaksi flour dengan email
                  Agar flour dapat diikat oleh email, flour diletakkan dalam bentuk flour apatit,yaitu ion bidroksil digantikan oleh ion flour.flour yang diprolrh dari cairan haringan selama periode pembentukkan gigi dan dari slaiva serta air minum pada periode pasca erupsi diikat email,karena rendahnya konsentrasi flour dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh akumulasi flour apatit yang cukup pada email. Tujuan aplikasi flour topical adalah untuk membentuk flour apatit dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang tidak lama. Setelah berkontak dengan konsentrasi flour yang relative rendah , misalnya dibawah 75bps hidroksi apatit akan berubah menjadi flour apatit.
Ca10(PO4)6(OH)2+2F ® Ca10(PO4)6F2+2OH
Larutan yang mengandung konsentrasi flour yang lebih tinggi akan diserap F yang lebih banyak pula. Tetapi tidak seluruhnya dari flour dibentuk menjadi flour apatit.dari kisi-kisi untuk membentuk kalsium fluoride(CaF2)membebaskan ion fosfat dan sebagian menguraikan kisi-kisi dalam proses:
Ca10(PO4)6(OH)2+20F®10CaF2+6PO4+20H-
Karena CaF2 dapat larut sedikit dalam air,kebanyakan zat ini akan larut dan hilang dalam beberapa jam setelah terapi, jumlah tertentu dapat diikat oleh email, tetapi tidak mustahil flour apatit mengendap kembali, setelah terapi flour email ditutup dengan ulasan varnish flour yang akan diikat email lebih banyak.

2.4 Macam-macam obat-obatan atau larutan flour yang dapat dipergunakan
      a.Natrium fluoride (NaF)
                  Natrium fluoride digunakan dalam bentuk larutan yang dicampur ai r kunjungan dengan konsentrasi 2%(2 mg NaF dalam 100 mg larutan).aplikasi topical dengan NaF 2% terdiri aras satu seri perawatan, 4x kunjungan dengan interval atau jangka waktu antara kunjungan 1,2 ,3 dan 4 adalah 2-7 hari. Jenis perawatan ini dianjurkan untk anak-anak usia 3,7,10 dan 13 tahun,karena aplikasi topical dengan cara ini mempunyai efek profilaksis (tindakan pencegahan).
Kebaikan:
·         Rasanya cukup enak,tidak pahit,meskipun ada rasa asin;
·         Tidak menimbulkan pewarnaan ekstrinsik
·         Tidak mengiritasi jaringan gingival,dan
·         Mendidik penderita untuk melaksanakan disiplin kunjungan ke balai pengobatan selama satu seri kunjungan
Kekurangan:
Larutan ini tidak than lama,kecuali jika disimpan dalam botol polietilen yang bewarna gelap sehingga tidak tembus cahaya matahari. Jika larutan disimpan dalam botol tembus cahaya,sinar matahari akan merangsang reaksi kimia dengan ion flour yang bebas.

b.acidulated-phospat-fluoride atau FI3PO4(APF)
                 Terdiri dari larutan flour 1,2% didalam asam fosfat 0,1 mg. larutan flour yang telah diasamkan terdiri atas satu seri perawatan,2x  kunjungan untuk satu tahun. Semakin sering aplikasi topical dilakukan ,lebih efektif pula hasil timbulnya pencegahan karies. Topical aplikasi ini terutama diberikan pada kasus karies rampan. Keuntungan:larutan ini adalah larutan stabil jika disimpan dalam botol polietilen, Keburukannya: dapat menimbulkan pewarnaan ekstrinsik pada gigi-geligi.
c. stannous fluoride (SnF2)
            aplikasi topical dengan larutan SnF2 dipakai konsentrasi 8-10%, SnF2 diberikan sekali setiap 4-6 bulan dimulai pada usia 3 tahun,juga efektif buat orang dewasa.
Kelebihan:
·         Larutan sangat aktif sehingga akan cepat kehilangan kekuatannya. Oleh karena itu harus dibuat larutan yang baru untuk setiap kali pemakaiannya;
·         Pemakaian pada orang dewasa lebih efektif dari pada NaF;
·         Dapat member efek walaupun pada daerah tempat kadar fluoride dalam air minum cukup besar,dan
·         Penggunaan sanous fluoride 8% sekali pertahun sudah dapat melindungi gigi terhadap karies
Keburukannya:
·         Bau dan rasanya tidak enak
·         Dapat menimbulkan pigmentasi pada gigi
·         Dapat mengiritasi gingival,dan
·         Mudah teroksidasi sehingga tidak efektif lagi



2.5 Kegunaan fluor
                  profesi kedokteran gigi pencegahan, fluor dapat digunakan dalam 2 cara, penggunaan fluor secara sistemik dan secara local.
1)    Penggunaan fluor secara sistemik
 Fluor masuk kedalam tubuh melalui mulut,sehingga pemberian fluor sistemik juga mempenyai efek topical pada gigi, mempunyai efek baik pada gigi yang belum erupsi maupun gigi yang sudah erupsi. Yang termasuk pemberian secara sistemik adalah:
a)      Melalui air minum (PAM)
Untuk indonesia konsentrasi fluor yang dimasukkan kedalam air minum sebaiknya 0,7 ppm (1 ppm=1 mg fluor dalam 1 liter air).dari hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa pemberian fluor melalui air minum dapat mengurangi prevalensi karies sampai 60%. Penduduk diindonesia sebagian besar tidak mendapatkan air minum dari PAM,melainkan dari mata air,sungai,sumur, dan lain-lain. Bahan yang dipakai adalah NaF,Karena mempunyai sifat antara lain:
·         Mudah didapat dan murah harganya;
·         Mudah larut dalam air
·         Dan mudah melepaskan ion fluor bebas
b)      Mengonsumsi tablet fluor
Manfaat terbesar pemberian tablet fluor dapat dicapai jika diberikan sebelum erupsi gigi, yaitu 0-12 tahun. Dapat diberikan kepada ibu hamil , memerlukan kerja sama yang erat dengan orang tua,anak,guru,dan dokter giginya,jumlah tablet fluor yang dimakan dapat dilihat dari aturan pemakaian setiap kemasan misalnya,zyma fluor,diminum ¼ tablet/hari untuk anak dibawah 5 tahun. Untuk anak diatas 5 tahun dan ibu hamil,dosis menjadi 1 tablet/hari
c)      Obat tetes fluor
Penggunaan fluor dalam obat tetes adalah untuk bayi dan balita.diberikaan bersamaan dengan minuman atau makanan bayi, jumlah fluor dapat disesuaikan dengan aturan pemakaiannya misalnya, vitafluor drops,aturan pakai adalah 3x 4 tetes/hari untuk umur dibawah 3 tahun dan 3x 8 tetes/hari untuk anak diatas 3 tahun
    
2)  penggunaan fluor secara local
Pemberian fluor secara local hanya mempunyai efek pada gigi yang sudah erupsi. Contoh pemberian fluor secara local
·         Swa-aplikasi atau brush in atau pada saat sikat gigi
Bahan yang dipakai adalah pasta fluor, misalnya natrium fluoride atau stannous fluoride. 2 macam pasta fluor yaitu: pasta fluor dengan konsentrasi fluor rendah (0,4%) dapat dipakai untuk setiap hari dan pasta fluor dengan konsentrasi fluor tinggi (10%) dapat dipakai 1 atau 2 atau 4 bulan sekali
·         Kumur-kumur
Bahan yang dipakai adalah tablet NaF dilarutkan dalam 10cc air sehingga didapat fluor dengan konsentrasi 0,2% pasien berkumur-kumur dengan larutan NaF 0,2% selama kurang lebih 3 menit

2.6 Mekanisme Kariostatika flour
                 Berbagai cara penambahan fluor pada email, dengan menggunakan berbagai media yang kadar fluornya bervariasi, telah dites selama lebih dari empat dekade terakhir ini. Mungkin bergantung pada tahap tertentu dalam pelarutan emailnya, atau pada macam preparat, kadar, dan berapa sering aplikasi fluornya.
Selain itu, fluor dalam lingkungan oral terdapat dalam plak (5-10),saliva (0,002bps) dan cairan celah gingival sebanyak 0.008 bps. Dengan demikian, bisa lebih dari satu macam mekanisme kerja serentak bekerja. Aksi flor dalam pencegahan karies bersifat multifaktorial, efeknya berasal dari kombinasi beberapa mekanisme. Ada 3 kombinasi mekanisme utama kariostatika flour:
1.      Pasca erupsi
·         Mendorong remineralisasi dan menghambat demineralisasi pada lesi awal karies.
·         Menghambat glikolisis, yaitu proses yang terjadi ketika bakteri kariogenik memetabolisme karbohidrat yang dapat difermentasikan
2.      Sebelum erupsi
·         Mengurangi kelarutan email oleh asam dengan cara substitusi oleh asam  dengan cara substitusi ion flour kedalam Kristal hidroksi apatit sebelum gigi erupsi. Pada masa sebelum erupsi, pejanan dengan flour akan dapat menghambat karies. Flour menyatu dengan Kristal hidroksit apatit email yang sedang berkembang.
3.      Efek pada Kuman Plak dan Metabolismenya
Bergantung kepada konsentrasi dan pH, flour dapat menimbulkan efek antibakteri dan antienzim. Pada aplikasi topikal dengan konsentrasi lebih dari 1% F,baik APF (pH 3,2) maupun SnF (pH 2,1) ternyata toksis terhadap S. mutans. Tapi hal ini hanya efek sementara. Konsentrasi yang rendah  (2-10 bagian/106 dapat menghambat enzim yang terlibat dalam pembentukkan asam serta pengangkutan dan penyimpanan glukosa dan analog glukosa dalam streptococus oral. Juga dapat mencampuri sintesis polisakarida intrasel sehingga membatasi penyediaan bahan cadangan untuk pembuatan asam. Dengan demikian, adanya ion flour dengan kosentrasi yang rendah dalam plak dapat menurunkan efek kariogenik dengan jalan menghambat pembentukan asam dan penurunan pH yang diakibatkannya. Agar supaya efektif, flour harus dalam bentuk ion. Walaupun kebanyakan flour yang terdapat dalam plak berbentuk ikatan yang longgar, ion F dapat bebas jika pHnya turun sampai 4 atau 5 sehingga akan menaikkan kosentrasi ion F yang biasanya rendah pada cairan plak (0,08-0,8 bps).
4.       Efek pada Endapan Plak
Kemampuan bubuk hidroksi apatit dalam menyerap protein saliva berkurang secara bermakna jika dilakukan terapi flour. Oleh karna itu diperkirakan bahwa flour mampu menghambat penyerapan protein saliva pada permukaan email sehingga melambatkan pembentukan pelikel dan plak. Akan tetapi, penelitian klinik tidak mengungkapkan hasil yang jeles dan tidak pula ada bukti bahwa endapan plak itu berbeda jumlahnya pada daerah berkadar flour tinggi dan rendah.



2.7 Topical aplikasi flour
Pemberian fluor melalui topical aplikasi dapat memakai bermacam-macam bentuk fluor,antara lain:
·         Pasta fluor konsentrasi tinggi (SnF 10%) dan larutan fluor SnF 10% alat yang dipakai contra angle dan rubber cup.pasta fluor konsentrasi tinggi SnF2 10% dipoleskan memakai contra angle dan rubber cup setelah selesai,larutan fluor SnF2 10% diulaskan memakai catton pellet.
·         Larutan fluor SnF2 20%.Sebelum dipakai larutan biasanya dicampur dengan larutan pengencer atau pemanis dengan perbandingan 1:1 sehingga akan didapatkan larutan fluor dengan konsentrasi 10%. Kapas dicelupkan pada larutan fluor yang sudah siap dipakai, lalu dioleskan pada seluruh permukaan gigi yang sudah dikeringkan.
·         Fluor dalam bentuk gel. Fluor dalam bentuk gel diletakan pada mouth guard atau sendok cetak,kemudian sendok cetak dipakai 2-3 menit.

Pemberian fluor melalui teknik aplikasi topical biasanya dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
·      Mintak anak menggosok giginya, lalu lanjutkan dengan flossing jika memungkinkan, hilangkan sisa makanan
·      Isolasi gigi geligi, gubakan saliva ejector, gulungan tisu atau kapas
·      Keringkan gigi yang diisolasi
·      Ulaskan larutan, gel,atau varnish. Biarkan gigi tertutup larutan atau gel,selama beberapa menit,atau biasanya selama 4 menit
·      Setelah 4 menit, bersihkan larutan atau gel dari permukaan gigi yang dapat dijangkau, jangan berusaha membersihkan gel dari permukaan aproksimal. Jumlah larutan atau gel yang digunakan cukup kecil, jangan sampai tertelan oleh anak. Instruksikan anak untuk meludah tetapin tidk berkumur
·      Isoalsi kuadran lain atau sepertiga atau setengah mulut dan ulangi perwatan, pada akhir perawatan instruksikan pasien untuk tidak makan atau minum selama 30 menit, untuk memperpanjang kontak flour dengan permukaan aproksiml gigi.
Spot Application
Merupakan perwatan karena diberikan langsung pada white spot atau daerah yang terkena karies. Bahan yang digunakan adalah larutan flour SnF2 20%. Pada teknik spot aplikation catton pellet dicelupkan pada larutan SnF2 20% lalu catton pellet diletakkan pada white spot selama 2-3 menit.


























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
                  Fluorida yang sebelumnya disebut fluorine, merupakan elemen kimia yang bersifat sangat elektronegatif. Oleh karena itu tidak pernah ditemukan dalam bentuk eleman bebas. Tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan adalah sumber fluorida. Fluorida, berfungsi sebagai anti karies dan berfungsi sebagai remineralisasi karies awal. Bahan yang sering digunakan antara lain natrium monofluorofosfat dan natrium fluorida.
                  Topical aplikasi flour adalah pengolesan langsung fluor yang pekat pada email. Setelah gigi dibersihkan dan dikeringkan dengan semprotan udara, maka permukaan gigi diolesi larutan yang dibiarkan mengering (umumnya selama lima menit). Selama itu penderita selama satu jam tidak boleh makan, minum atau berkumur. Mineral email terdiri atas Kristal-kristal dan mempunyai struktur seperti kisi-kisi khas hidroksiapatit. Unsur terkecilnya dengan formula C10(Po4)6(OH)2, Tetapi email bukan merupakan hidroksiapatit murni karena mengandung fase non-apatit (kalsium fosfat dan kalsium karbonat amorf),dan ion atau molekul tambahan diserap ke dalam permukaan kristalnya yang luas.

3.3 Saran
                 Diharapkan kepada seluruh mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang fluoride dan dapat menerapkannya dalam tindakan keperawatan gigi.










DAFTAR PUSTAKA

Putri, Maganenda hiranya.Dkk.2015.Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras Dan Jaringan Pendukung Gigi.Jakarta:EGC.

Kidd,EdwinaA.M.Dkk.1991.Dasar-DasarKariesPenyakitDan Penanggulangannya.Jakarta:EGC.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENYAKIT JARINGAN KERAS GIGI (KARIES)

Halitosis (bau mulut)

Ortodonti (kawat gigi)